Minggu, 27 September 2009

Tangisan Rasulullah Mengguncang Arrasy

Jika harta yang hilang dari diri seseorang, maka tiada apa pun yang hilang,

Jika kesehatan yang hilang dari diri seseorang, maka ada sesuatu yang hilang,

Tetapi jika akhlak yang hilang dari diri seseorang, maka segala-galanya

telah hilang dari diri seseorang.


“Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”


Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikuti zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”. Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata:


“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku,

kerana aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu

dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad

Rasulullah.”


Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah

melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah

bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.


Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.


“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk

mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w.

menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:


“Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”


Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia

berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan

bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona

dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari

Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang

besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang

Arab itu pula berkata:


“Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan

atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata

orang Arab badwi itu.


“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Allah?”

Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa

hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’

jawab orang itu. ‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba

akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia

memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula

betapa kedermawananNya!’



Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:


“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda:

Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga

Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang.

Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga

tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya.



Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita tersebut. la lalu menangis

karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

0 Komentar Terbaru:

Poskan Komentar